Laman

Minggu, 22 Mei 2011

Bintang yang redup sinarnya ..

waktu gue baca novel laskar pelangi karyanya Andrea Hirata, gue nyesek banget waktu liat kisahnya Lintang, anak cerdas, pantang menyerah, dan bisa nularin semangatnya ke semua orang. Lintang sayang banget sama papahnya, dan gue percaya, ada rasa bangga mengalir dalam diri ayahnya atas kecerdasan Lintang ini.

tapi sayang, ia harus berhenti sekolah karena ayahnya meninggal, ia harus jadi kepala keluarga, dapet tugas yang menurut gue bukan bagiannya, dapet masalah yang ga sebanding sama umurnya, sedikit terkesan menyia-nyiakan otak jeniusnya, tidak memaksimalkan ide-idenya yang cemerlang, ia terpaksa berhenti sekolah dan harus mencari uang, entah menjadi nelayan atau buruh timah, apapun asal dapat menghidupi keliarganya.

perjuangannya, menaiki sepeda,  melewati sungai, beradu kecepatan dan kecerdasan dengan seekor buaya, hanya agar dapat duduk di salah satu bangku di gedung tua yang mereka namai sekolah, kegigihannya menantang dunia membuatnya harus terperosok kedalam jurang ketidakadilan.

dan naas,  justru karena kematian ayahnyalah, yang memaksanya berhenti, menggerogoti nurani, kenyataan baru yang pahit. mungkin ada banyak pertanyaan dalam kepala kecilnya, mengenai arah hidup, takdir, tekad, penguasa dan keadilan.

dia, sang pemberi motivasi, penyemangat hidup itu, ia menangis, bukan karena menyalahkan nasib, melainkan karena ia tak dapat melakukan apapun untuk mengubahnya. airmata warga sekolah menjadi tanda betapa ia sangat dicintai.

menyalahkan takdir, mencoba merubah realita, sedih itu berubah menjadi amarah, tapi tetap tak ada yang dapat dilakukan.

Lintang adalah salah satu anak yang dipukul kalah roda kehidupan, dipaksa merangkak dibawah cambuk perubahan zaman, dan disadari atau tidak, Lintang hanyalah salah satu dari sekian banyak bintang yang telah redup sinarnya. bahkan mungkin ide-ide cemerlang mereka, akan terkubur dengan jasad mereka, dan harapan mereka yang telah lebih dulu musnah ..

ga banyak yang bisa diharapin dari bangsa ini,
kalau justru mutiara paling berharga yang kita punya
diperlakukan jauh lebih buruk dari sampah,
bukan salah pemerintah,
bukan salah penguasa,
mungkin cuma kita yang kurang peka,
dalam mendengar jeritan hati mereka ..

Tidak ada komentar:

Posting Komentar