laut itu pendengar yang baik. Keluh kesahmu, tangismu, tumpahkan saja ia padanya.
Telinga yang kau butuhkan akan kau dapatkan disana, walau dalam diam.
jika laut punya perasaan, mungkin ia akan bosan. jika di dunia ini ada reward untuk
pengunjung setia karya Tuhan yang dinamakan laut, aku pasti berhak menerimanya.
jika stasiun tv mengadakan award untuk para penonton ombak yang silih berganti itu,
mungkin aku akan menjadi nominasinya, atau bahkan pemenangnya.
setiap hari dalam kalender yang telah berganti empat belas kali itu, tak satu kali pun
aku lalui tanpa berkunjung kesini, ke rumahku.
sekedar mamandangnya, menceritakan hal yang sama terus menerus,
mengutarakan setiap tanya yang ada di benakku, walau tak sekalipun aku dapat jawaban.
tapi aku tau suatu saat laut akan bermurah hati,
dan untuk hal itu lah aku dengan sabar menanti,
karena ternyata ada kalanya logika harus menyerah pada harapan,
dan harapan lah yang menguasai hidupku sekarang.
berlari sendiri itu tidak menyenangkan,
walau engkau akan merasakan kebebasan yang akhir akhir ini sulit didapatkan.
kadang aku ingin terbang, sekedar melepas ketergantunganku selama ini.
dari sinilah semua nya berasal, dan seharusnya disini juga semuanya berakhir.
aku terlahir dengan keluarga yang utuh,
kebahagiaan seperti terlahir hanya untuk kami,
dan mungkin Tuhan murka karena kami tak mau membaginya.
untuk itulah Ia mengambil apa yang kami sebut 'utuh'
Laut mengambil ibuku, dua bulan setelah perayaan terkhir ulang tahunku.
tak lama ia juga memaksaku melepas ayahku, hanya sekedar membuatku terpuruk.
aku tak mampu melawan, bahkan sekedar marah pun aku tak pantas,
karena pada kenyataanya, lautlah yang menemani empat belas tahun perjalanan hidupku selanjutnya.
banyak orang berkata ibuku adalah wanita yang baik,
mereka salah. Ibuku ada lah ibu terbaik, bukan hanya baik.
saat itu aku sedang terlelap, di rumah pohon hadiah terakhir ibu.
semuanya terlalu rumit untuk dimengerti anak kecil berusia delapan tahun.
satu yang aku sadari, semua dapat terjadi ketika kau membuka mata.
perubahan drastis, ibu tak ada, air dimana mana, suasana kacau,
jeritan tangis, orang banyak pergi tanpa arah, airmata tak lebih berharga dari nyawa,
berlalu begitu saja hingga aku tau semua itu bencana.
aku juga tak pernah melihat ayah stelah kejadian itu,
mereka berkata ia murka, dan kemarahannya membuatnya pergi menantang ombak,
hingga ia sendiri harus menelan keangkuhan hatinya,
menyerahkan nyawanya untuk sebuah kehilangan.
yang aku tau, laut yang membawa ayah dan ibu.
untuk itu aku memohon ia mengembalikan mereka,
bercerita padanya seolah ayah dan ibu mendengarkan
di suatu tempat yang tersembunyi.
menangis, berfikir dengan airmata aku mampu mengetuk rasa belas kasihannya,
tapi ternyata laut tak punya hati.
badai kehidupan ternyata lebih ampuh mengalahkan hatiku, harapanku.
aku lelah dan berharap ini cepat berakhir,
hingga aku sadar semua memang telah berakhir.
"ibu, ayah, seharusnya aku tau kalian telah ada di surga, dan bukan di laut.
ibu, ayah, lihatlah aku. aku sudah dewasa sekarang,
aku sudah menjadi sarjana seperti yang kalian inginkan.
ibu, ayah, berterimakasihlah pada Tuhan,
karena Ia telah mengirim seseorang untuk mendampingi
anakmu yang hilang ini.
ibu, ayah, jika aku tau saat itu adalah hari terakhir kali aku dapat bertemu kalian,
aku pasti akan memilih untuk memeluk kalian sedikit lebih lama dan bukan tertidur.
ibu, ayah, hari ini adalah hari terakhir aku berkunjung ke rumahku ini,
karena esok aku akan pergi bersama malaikat yang telah Ia tempatkan disisiku.
tak usah khawatir ibu, ayah, karena sekarang anakmu telah lebih kuat,
walau ada bagian hatinya yang rapuh tanpa kalian..
anakmu yang mengasihimu"
jika selama ini laut telah dengan setia mendengarkanku,
maka dengan membuatnya menjadi perantara suratku pada ibu dan ayahlah
aku berterimakasih padanya,
dan dengan tetes terakhir airmata yang aku miliki
aku melepas kepingan terakhir memory berisi jutaan kenangan di dalamnya ini..
Telinga yang kau butuhkan akan kau dapatkan disana, walau dalam diam.
jika laut punya perasaan, mungkin ia akan bosan. jika di dunia ini ada reward untuk
pengunjung setia karya Tuhan yang dinamakan laut, aku pasti berhak menerimanya.
jika stasiun tv mengadakan award untuk para penonton ombak yang silih berganti itu,
mungkin aku akan menjadi nominasinya, atau bahkan pemenangnya.
setiap hari dalam kalender yang telah berganti empat belas kali itu, tak satu kali pun
aku lalui tanpa berkunjung kesini, ke rumahku.
sekedar mamandangnya, menceritakan hal yang sama terus menerus,
mengutarakan setiap tanya yang ada di benakku, walau tak sekalipun aku dapat jawaban.
tapi aku tau suatu saat laut akan bermurah hati,
dan untuk hal itu lah aku dengan sabar menanti,
karena ternyata ada kalanya logika harus menyerah pada harapan,
dan harapan lah yang menguasai hidupku sekarang.
berlari sendiri itu tidak menyenangkan,
walau engkau akan merasakan kebebasan yang akhir akhir ini sulit didapatkan.
kadang aku ingin terbang, sekedar melepas ketergantunganku selama ini.
dari sinilah semua nya berasal, dan seharusnya disini juga semuanya berakhir.
aku terlahir dengan keluarga yang utuh,
kebahagiaan seperti terlahir hanya untuk kami,
dan mungkin Tuhan murka karena kami tak mau membaginya.
untuk itulah Ia mengambil apa yang kami sebut 'utuh'
Laut mengambil ibuku, dua bulan setelah perayaan terkhir ulang tahunku.
tak lama ia juga memaksaku melepas ayahku, hanya sekedar membuatku terpuruk.
aku tak mampu melawan, bahkan sekedar marah pun aku tak pantas,
karena pada kenyataanya, lautlah yang menemani empat belas tahun perjalanan hidupku selanjutnya.
banyak orang berkata ibuku adalah wanita yang baik,
mereka salah. Ibuku ada lah ibu terbaik, bukan hanya baik.
saat itu aku sedang terlelap, di rumah pohon hadiah terakhir ibu.
semuanya terlalu rumit untuk dimengerti anak kecil berusia delapan tahun.
satu yang aku sadari, semua dapat terjadi ketika kau membuka mata.
perubahan drastis, ibu tak ada, air dimana mana, suasana kacau,
jeritan tangis, orang banyak pergi tanpa arah, airmata tak lebih berharga dari nyawa,
berlalu begitu saja hingga aku tau semua itu bencana.
aku juga tak pernah melihat ayah stelah kejadian itu,
mereka berkata ia murka, dan kemarahannya membuatnya pergi menantang ombak,
hingga ia sendiri harus menelan keangkuhan hatinya,
menyerahkan nyawanya untuk sebuah kehilangan.
yang aku tau, laut yang membawa ayah dan ibu.
untuk itu aku memohon ia mengembalikan mereka,
bercerita padanya seolah ayah dan ibu mendengarkan
di suatu tempat yang tersembunyi.
menangis, berfikir dengan airmata aku mampu mengetuk rasa belas kasihannya,
tapi ternyata laut tak punya hati.
badai kehidupan ternyata lebih ampuh mengalahkan hatiku, harapanku.
aku lelah dan berharap ini cepat berakhir,
hingga aku sadar semua memang telah berakhir.
"ibu, ayah, seharusnya aku tau kalian telah ada di surga, dan bukan di laut.
ibu, ayah, lihatlah aku. aku sudah dewasa sekarang,
aku sudah menjadi sarjana seperti yang kalian inginkan.
ibu, ayah, berterimakasihlah pada Tuhan,
karena Ia telah mengirim seseorang untuk mendampingi
anakmu yang hilang ini.
ibu, ayah, jika aku tau saat itu adalah hari terakhir kali aku dapat bertemu kalian,
aku pasti akan memilih untuk memeluk kalian sedikit lebih lama dan bukan tertidur.
ibu, ayah, hari ini adalah hari terakhir aku berkunjung ke rumahku ini,
karena esok aku akan pergi bersama malaikat yang telah Ia tempatkan disisiku.
tak usah khawatir ibu, ayah, karena sekarang anakmu telah lebih kuat,
walau ada bagian hatinya yang rapuh tanpa kalian..
anakmu yang mengasihimu"
jika selama ini laut telah dengan setia mendengarkanku,
maka dengan membuatnya menjadi perantara suratku pada ibu dan ayahlah
aku berterimakasih padanya,
dan dengan tetes terakhir airmata yang aku miliki
aku melepas kepingan terakhir memory berisi jutaan kenangan di dalamnya ini..
Tidak ada komentar:
Posting Komentar